Pemerintah China menegaskan langkah kerasnya terhadap kejahatan penipuan daring lintas negara dengan mengeksekusi mati 11 anggota keluarga Ming. Klan kriminal ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengendali utama jaringan scam berskala besar yang beroperasi dari Laukkaing, sebuah kota perbatasan di Myanmar. Eksekusi tersebut menjadi penanda berakhirnya dominasi sebuah keluarga yang membangun kekuasaan melalui penipuan sistematis, kekerasan, dan eksploitasi manusia.
Vonis hukuman mati terhadap anggota keluarga Ming sebenarnya telah dijatuhkan oleh pengadilan di Provinsi Zhejiang pada September 2025. Namun, pelaksanaan eksekusi baru dikonfirmasi pada awal 2026 setelah seluruh proses hukum dinyatakan berkekuatan tetap. Kasus ini diperlakukan sebagai perkara besar karena menyangkut kejahatan lintas negara, kerugian ekonomi yang sangat besar, serta dampak sosial yang luas, terutama terhadap warga negara China yang menjadi korban utama.
Nama keluarga Ming selama bertahun-tahun melekat erat dengan Laukkaing. Wilayah perbatasan ini lama berada dalam kondisi rapuh akibat konflik bersenjata dan lemahnya pengawasan negara. Dalam kondisi tersebut, berbagai bentuk ekonomi ilegal tumbuh subur. Kasino ilegal, perjudian, dan prostitusi menjadi pemandangan umum sebelum akhirnya wilayah ini dikenal sebagai pusat industri penipuan digital yang terorganisasi.
Keluarga Ming memanfaatkan situasi tersebut untuk membangun kekuasaan ekonomi dan militer informal. Di bawah kepemimpinan Ming Xuechang, jaringan kriminal ini berkembang dengan struktur tertutup dan disiplin tinggi. Salah satu fasilitas paling dikenal yang dikaitkan dengan keluarga Ming adalah kompleks bernama “Crouching Tiger Villa”. Kompleks ini berfungsi sebagai pusat operasi penipuan daring, dilengkapi sistem pengamanan ketat dan akses yang sangat terbatas. Dari lokasi inilah berbagai skema penipuan dijalankan secara terstruktur.
Pada awalnya, sumber pemasukan utama keluarga Ming berasal dari kasino dan perjudian ilegal. Namun, seiring meningkatnya tekanan penegakan hukum terhadap sektor tersebut, mereka mulai mengalihkan fokus ke penipuan daring. Penipuan online dipandang lebih menguntungkan, berisiko hukum lebih rendah, dan mampu menjangkau korban dalam jumlah besar. Teknologi komunikasi modern dimanfaatkan secara maksimal untuk menjalankan skema investasi palsu, penipuan asmara, hingga transaksi perdagangan fiktif.
Keberhasilan operasi penipuan ini sangat bergantung pada tenaga kerja paksa. Banyak pekerja direkrut melalui iklan lowongan kerja palsu dengan iming-iming gaji tinggi dan pekerjaan ringan. Sebagian lainnya menjadi korban penculikan dan perdagangan manusia lintas negara. Setelah tiba di Laukkaing, paspor dan alat komunikasi mereka disita. Para pekerja kemudian dipaksa bekerja menipu korban sesuai target yang telah ditetapkan.
Target keuangan yang diterapkan bersifat ketat dan sering kali tidak realistis. Kegagalan mencapai target tersebut berujung pada hukuman fisik. Pemukulan, penyiksaan, dan penahanan di ruang sempit menjadi bagian dari sistem kontrol yang diterapkan jaringan ini. Kesaksian korban yang terungkap dalam proses hukum menggambarkan kondisi kerja yang sangat tidak manusiawi, dengan tekanan fisik dan psikologis yang berlangsung terus-menerus.
Skala kejahatan keluarga Ming terungkap secara rinci di pengadilan. Dalam periode 2015 hingga 2023, jaringan perjudian dan penipuan yang mereka kelola menghasilkan lebih dari 10 miliar yuan, atau sekitar Rp 22 triliun. Angka ini mencerminkan besarnya industri scam yang tumbuh subur di wilayah perbatasan dengan memanfaatkan celah hukum dan situasi konflik yang berkepanjangan.
Dampak kejahatan tersebut tidak hanya berupa kerugian finansial. Pengadilan mencatat sedikitnya 14 warga negara China meninggal dunia akibat langsung dari praktik kekerasan dan penyiksaan yang terjadi dalam jaringan keluarga Ming. Banyak korban lainnya mengalami luka berat dan trauma psikologis jangka panjang. Fakta-fakta ini menjadi salah satu pertimbangan utama hakim dalam menjatuhkan hukuman mati kepada para pelaku utama.
Keruntuhan kekuasaan keluarga Ming bermula pada 2023. Pada tahun tersebut, milisi etnis bersenjata mengambil alih Laukkaing dari kendali militer Myanmar. Dalam proses itu, anggota keluarga Ming ditangkap dan kemudian diserahkan kepada otoritas China. Penyerahan ini menjadi titik balik penting dalam pengungkapan jaringan penipuan lintas negara yang selama bertahun-tahun beroperasi relatif tanpa hambatan.
Sementara itu, Ming Xuechang dilaporkan mengakhiri hidupnya sendiri pada 2023 saat berusaha menghindari penangkapan. Meski pimpinan utama telah tiada, proses hukum terhadap anggota keluarga dan jaringan pendukungnya tetap dilanjutkan. Negara memandang kejahatan ini sebagai kejahatan kolektif yang tidak berhenti pada satu individu semata.
Selain 11 anggota keluarga yang dieksekusi mati, lebih dari 20 anggota keluarga Ming lainnya dijatuhi hukuman penjara. Vonis yang dijatuhkan bervariasi, mulai dari lima tahun hingga penjara seumur hidup. Pendekatan ini menunjukkan upaya menyeluruh untuk memutus seluruh mata rantai organisasi kriminal, bukan hanya menghukum figur puncak.
Kasus keluarga Ming menjadi bagian dari gelombang penindakan besar terhadap sindikat penipuan daring. Dalam waktu yang berdekatan, sejumlah kelompok kriminal lain dengan pola serupa juga menghadapi proses hukum berat. Namun demikian, praktik scam di Asia Tenggara belum sepenuhnya berhenti. Indikasi menunjukkan adanya pergeseran lokasi operasi ke wilayah lain yang dinilai memiliki pengawasan hukum lebih lemah.
Eksekusi mati terhadap 11 anggota keluarga Ming menjadi pesan keras yang jelas. Bagi Beijing, penipuan daring lintas negara yang melibatkan perdagangan manusia, kekerasan sistematis, dan kerugian ekonomi besar dipandang sebagai ancaman serius terhadap ketertiban sosial. Negara menegaskan bahwa industri scam tidak lagi diperlakukan sebagai kejahatan ekonomi biasa, melainkan sebagai kejahatan berat yang akan dibalas dengan penegakan hukum paling tegas.
